BPSDMP Gelar Ambassadorial Lecture dengan Kedutaan Besar Swiss

0
18
Plt. Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan (BPSDMP) Zulfikri. Foto: bpsdmp/up2date.co.id

Jakarta (Up2date.co.d) – Dalam rangka mengembangkan wawasan dan pemahaman terkait kebijakan transportasi dalam pengelolaan sistem transportasi negara maju, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan (BPSDMP) kembali menggelar ambassdorial Lecture dengan Kedutaan Besar Swiss secara virtual pada Kamis (25/3/2021).

Mengusung tema “Transportation Policy in Switzerland”, Ambassadorial Lecture kali ini menghadirkan narasumber H.E Kurt Kunz, Ambassador of Swiss Confederation to Indonesia, dan Imran Rasyid, Kepala Pusat Pengembangan SDM Perhubungan Darat (PPSDMPD) sebagai pembahas, serta dipandu oleh Siti Maimunah, Direktur Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan (PKTJ) Tegal, sebagai moderator.

Plt. Kepala BPSDM Perhubungan, Zulfikri, menyampaikan bahwa Ambassadorial Lecture ini merupakan salah satu upaya BPSDMP untuk bekerja sama dengan negara maju guna pengembangan SDM di bidang transportasi.

“Lecture ini diselenggarakan secara virtual oleh BPSDM Perhubungan dan berkolaborasi dengan Ambassador Switzerland, yang bertujuan memberikan pandangan secara Internasional kepada para peserta, khususnya para taruna di lingkungan BPSDMP tentang pengembangan dan manajemen transportasi di negara-negara maju,” ungkap Zulfikri.

Ia juga mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada H.E. Kurt Kunz yang telah berkenan menyempatkan waktunya untuk menyapa dan membagikan ilmu pengetahuan kepada Civitas Akademika Perguruan Tinggi di lingkungan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan.

“Salah satu strategi kami adalah untuk meningkatkan nilai tambah pada lulusan kami di industri transportasi nasional dan internasional melalui pengembangan kualitas dan kompetensi taruna. Tidak hanya itu, pemenuhan standar nasional dan internasional juga sangat penting, sehingga diperlukan kerja sama dan kolaborasi dengan Kedutaan dan partner Internasional,” jelas Zulfikri.

Zulfikri juga mengungkapkan bahwa sistem transportasi perlu dikembangkan dan dikelola secara berkelanjutan. Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami kebijakan transportasi agar kita dapat mengambil keputusan yang efektif mengenai kondisi lingkungan dan fungsi sistem transportasi.

“Pada kesempatan ini kita akan belajar bagaimana Switzerland mengembangkan dan mengelola transportasi publik, logistik dan kebijakan perpindahan moda, infrastruktur perkeretaapian, kerja sama Switzerland dengan Uni Eropa, dan partisipasi sektor swasta serta kerja sama dengan Indonesia,” jelas Zulfikri.

Zulfikri berharap dengan Ambassadorial Lecture ini para peserta dapat memperluas wawasan dan menambah informasi tentang sistem transportasi Internasional dan kebijakan transportasi di Switzerland, untuk nantinya dapat dipelajari guna mengelola sistem transportasi.

Saat pemaparan materi, narasumber H.E. Kurt Kunz, Ambassador of Swiss Confederation to Indonesia, menyampaikan kebijakan transportasi dan tantangannya di Switzerland, dimana Switzerland memiliki populasi 8,5juta jiwa, berhubungan dekat dengan Uni Eropa dan bagian dari area Schengen serta sebagai penghubung Eropa dari wilayah utara ke selatan dan wilayah timur ke barat.

Duta Besar Swiss untuk Indonesia H.E. Kurt Kunz (atas kiri) dan Kepala Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan Tegal (PKTJ) Tegal Siti Maimunah (kanan atas). Foto: bpsdmp/up2date,co,id

“Kebijakan transportasi di Switzerland untuk mendukung infrastruktur transportasi yang berkualitas tinggi dan ramah lingkungan untuk seluruh wilayah dan populasi, dan berkelanjutan secara ekonomi dalam jangka panjang,” ungkap Kunz.

Ambassador Kunz menjelaskan bahwa di Switzerland terdapat beberapa kebijakan transportasi barang yang bertujuan untuk mengurangi perjalanan Transalpine menjadi 650.000 di Tahun 2018, yang mana telah terdapat Gotthard base tunnel.

“Selain telah adanya terowongan kereta api, Gotthard base tunnel, yang melalui pegunungan Alpen, Salah satu kebijakan yang diterapkan pada perpindahan moda transportasi barang, yaitu ketentuan tarif untuk Heavy Good Vehicle yang memiliki beban lebih dari 3,5 ton,” jelas Kunz.

Adanya Gottard base tunnel ini, Ambassador Kunz menjelaskan bahwa selain dapat mengurangi bahaya kecelakaan fatal dan kerusakan lingkungan yang melibatkan truk, juga sebagai transportasi yang menyediakan koneksi yang lebih cepat, yaitu 45 menit dari Lucerne ke Bellinzona.

Kunz menyebutkan kebijakan lain pada transportasi di Switzerland yaitu adanya kerja sama yang dilakukan dengan beberapa negara Eropa, yang meliputi perjanjian transportasi antara Switzerland – Uni Eropa, perjanjian bilateral, dan Rhine shipping.

Pada Rhine Shipping, Switzerland memiliki 3 (tiga) pelabuhan di sungai Rhine, yang berlokasi di area Basel. Pelabuhan-pelabuhan tersebut terintegrasi secara efisien, dan lebih dari 10% barang-barang impor pergerakannya melalui Rhine.

Switzerland juga memiliki pendidikan dan pelatihan transportasi, yaitu Strong Technical Vocational Education System (TVET), ZHAW School of Engineering, The Lucerne University, and The Federal Technical Universities di Zurich dan Lusanne.

Kunz juga menambahkan bahwa saat ini telah banyak dilakukan digitalisasi pada transportasi, misalnya drone.

“Saat ini drone telah banyak digunakan untuk pergerakan barang medis (medical transport) sehingga dapat pergerakan barang menjadi efisien,” jelas Kunz.

Kepala BPSDM Transportasi Darat Imran Rasyid. Foto: bpsdmp/up2date.co.id

Di akhir Kuliah Umum, Kepala PPSDMPD, Imran Rasyid, selaku pembahas menyampaikan bahwa apa yang telah disampaikan oleh H.E. Kurt Kunz merupakan materi yang menarik dan dapat menambah wawasan kita, khususnya pada para taruna untuk mengembangkan kompetensi dalam manajemen sistem transportasi.

“Kebijakan transportasi yang ada di Switzerland selain bertujuan untuk mempermudah mobilitas, juga berkelanjutan secara ekonomi dan ramah lingkungan. Seperti yang telah disampaikan oleh H.E. Kurt Kunz bahwa mayoritas penduduk di Switzerland menggunakan transportasi publik, kereta api. Hal ini tentunya dikarenakan selain adanya berbagai kebijakan, juga terdapat pengembangan dan pengelolaan sistem transportasi,” ungkap Imran.

Setelah penyampaian materi, pada Ambassadorial Lecture ini dibuka sesi diskusi dan tanya jawab. Pada sesi ini para taruna menyampaikan pertanyaan dengan antusias kepada H.E. Kurt Kunz, mengenai manajemen sistem transportasi di Switzerland dan kebijakan apa yang dapat diadopsi di Indonesia.(Aliy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here