Menteri Desa Imbau Masyarakat Tak Mudik Lebaran

0
32
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Abdul Halim Iskandar. Foto: Kemendes PDTT.

JAKARTA (up2date.co.id) – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Abdul Halim Iskandar meminta kesadaran masyarakat agar tak mudik. Hal itu untuk menghindari penyebaran Covid-19 ke tetangga dan keluarga di desa.

“Kita sayang tetangga, kita sayang teman-teman semua, ayo kita tidak mudik dulu,” kata Halim di Jakarta, Sabtu (18/4/2020).

Halim mengatakan masyarakat bukannya tak mudik sama sekali, tetapi menunda mudik. Apalagi kata dia, pemerintah telah menggeser cuti bersama Lebaran 2020 ke akhir tahun nanti.

Menurut Mantan Ketua DPRD Jombang ini, pemerintah juga akan menggeser fasilitas-fasilitas yang biasa diberikan selama mudik Lebaran ke cuti bersama akhir tahun.

Ia berujar, Presiden Joko Widodo juga pernah berkelakar untuk menyebut cuti akhir tahun nanti sebagai mudik bersama.

“Ini kan situasi mudik bersama ditarik ke sana, berarti kan banyak fasilitas,” kata politikus Partai Kebangkitan Bangsa ini.

Selain itu, Dosen Universitas Hasyim Asy’ari ini menjelaskan bahwa pemerintah juga akan menyiapkan tempat-tempat rekreasi.

Hasil survei yang dirilis Kementerian Desa sebelumnya menampilkan sebanyak 50,14 persen kepala desa meminta pemerintah pusat melarang kegiatan mudik untuk Lebaran 2020 nanti. Sedangkan 49,86 persen lainnya setuju dengan kebijakan imbauan tidak mudik.

Sebanyak 88,9 persen kepala desa yang setuju terhadap adanya pelarangan mudik mengemukakan alasan kesehatan sebagai pertimbangan utama. Sedangkan 24,5 persen lainnya menguatkannya dengan alasan sosial; 16,28 persen mengemukakan alasan ekonomi; 1,92 persen menyebutkan alasan politik; dan 5,31 persen menyatakan alasan lainnya.

Hasil survei itu berasal dari pertanyaan yang diajukan tim peneliti terkait langkah apa yang tepat diambil pemerintah agar warga tidak mudik menjelang Lebaran 2020 nanti. Survei itu melibatkan 3.931 kepala desa sebagai responden.

Survei dilakukan di desa-desa dengan mayoritas penduduk beragama muslim. Desa yang diambil sebagai sampel juga merupakan desa dengan jumlah orang dalam pengawasan (ODP) atau pasien dalam pengawasan (PDP) tinggi.

Sigi ini dilakukan pada Jumat-Ahad, 8-12 April 2020. Metodologi yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan margin of error 1,21 persen.(Arya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here