PAN Pertanyakan Keterlibatan Start Up Ruangguru di Proyek Kartu PrakerjaPAN Pertanyakan Keterlibatan Start Up Ruangguru di Proyek Kartu Prakerja

0
35
Staf Khusus Presiden, Adamas Belva Syah Devara yang juga salah seorang pendiri perusahaan strat up ruangguru.

JAKARTA (up2date.co.id) – Politikus Partai Amanat Nasioal (PAN) dan juga Anggota Komisi IX DPR RI, Saleh Partaonan Daulay mempertanyakan keterlibatan perusahaan start up, Ruangguru dalam proyek Kartu Prakerja senilai Rp5,6 Triliun.

“Ruangguru ini kan diketahui adalah milik salah seorang staf khusus presiden. Dan sekarang banyak dipertanyakan oleh masyarakat. Apakah startup ruangguru ini sudah mengikuti seleksi sebelumnya? Atau ditetapkan saja oleh PMO (project management officer)?” tanya Saleh, Kamis (16/4/2020).

Salah satu pendiri Ruangguru, Adamas Belva Devara merupakan salah satu staf khusus (Stafsus) Presiden Jokowi dari kalangan milenial.
Saleh mengatakan, agar tidak menimbulkan perdebatan dan kecemburuan bagi lembaga – lembaga pelatihan yang ada, Pemerintah diminta untuk memberikan penjelasan.

“Dengan begitu, program ini dapat dilaksanakan dan mendatangkan manfaat yang besar bagi masyarakat,” sambungnya.

Selain soal anggarannya, ada banyak hal lain yang sangat perlu diperhatikan pada program kartu prakerja tersebut.

Antara lain, soal kepesertaan, proses seleksi, persebaran kepesertaan, metode pelatihan, lembaga pelatihan, dan link and match-nya dengan dunia usaha.

Dari sekian banyak hal yang perlu diperhatikan tersebut, tentu keberadaan lembaga pelatihan perlu disoroti secara serius. Sebab, salah satu kunci keberhasilan program ini terletak pada lembaga pelatihan yang diajak kerja sama.

Sebagaimana disebutkan pemerintah, setiap pelatihan kerja yang dilakukan, pemerintah menyiapkan 3,55 juta per orang.

Dari 3,55 juta itu, 1 juta diantaranya akan dipergunakan untuk biaya pelatihan.

Kelihatannya, lembaga pelatihan yang diajak bekerjasama akan mendapatkan insentif dari yang 1 juta tersebut.

“Dengan dinaikkannya anggaran program kartu prakerja menjadi 20 Triliun, tingkat kepesertaanya pun naik. Dari yang tadinya target sasaran 2 juta orang, sekarang berubah menjadi menjadi 5,6 juta orang. Jumlah ini tentu sangat besar,” katanya.

“Wajar kemudian jika ada orang yang mempersoalkan keterlibatan lembaga-lembaga pelatihan. Sebab, peserta yang akan dilatih 5,6 juta orang. Lalu berapa kira-kira yang akan diperoleh lembaga itu per orang? Berapa orang yang dapat dilatih oleh setiap lembaga?” tuturnya.(Arya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here