Aptrindo Nilai Pemerintah Tidak Kompak dan Konsisten Terapkan Zero ODOL

0
28

Jakarta (up2date.co.id)- Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) menilai pemerintah tidak kompak dan konsisten dalam menerapkan kebijakan zero ODOL atau over dimension over load di jalan raya.

“Ketika kami para pengusaha truk sudah mau tertib, pemerintahnya tidak kompak alias mencla-mencle,” kata Ketua Umum Aptrindo Gemilang Tarigan, di Jakarta, Jumat (28/2/2020).

Pemerintah, menurut Tarigan, harus tegas dan konsisten. Juga jangan ragu-ragu menerapkan zero ODOL. “Kami juga mau tertib, dan kami tidak mau terus menerus disalahkan,” katanya.

Gemilang Tarigan menjelaskan,  sikap tegas pemerintah tersebut sangat diperlukan agar tidak ada lagi kambing hitam yang diarahkan kepada pengusaha truk setiap kali terjadi kerusakan jalan maupun kecelakaan.

Menurutnya, soal bebas ODOL ini telah diamanatkan dalam Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 60/2019 tentang Penyelenggaraan angkutan barang dengan kendaraan bermotor di jalan.

Kementerian Perhubungan sebelumnya mengumumkan zero ODOL pada tahun 2021. Kemudian berubah menjadi 2022. Terakhir, berubah lagi menjadi 2023. Penundaan Zero ODOL ini diyakini Aptrindo akan menambah panjang  tingginya biaya logistik nasional dan terus menjamurnya pungutan liar (Pungli) di jalan raya.

Tingginya biaya logistik ini,  lanjut Tarigan juga  menjadi penyebab, rendahnya daya saing.   Dengan masih berlakunya ODOL, apakah kita senang? Karena ini juga yang menyebabkan kita terus terpuruk,” jelasnya.

Ketua Kompartemen Angkutan Lintas Daerah DPP AptrindobNur Rochman menambahkan,  kalau antar instansi pemerintah saja tidak kompak, jangan harap penerapan bebas ODOL  di jalan raya bisa terealisasi.

Padahal, kata Nur Rochman, secara infrastruktur  telah disiapkan, berupa jembatan timbang yang dikembangkan
dengan sistem waigh in motion (WIM) oleh Badan Usaha Jalan Tol (BUJT).

Sistem ini, lanjut Nur Rochman sudah bisa dikembangkan di jalan-jalan non tol (koneksi)  dan diterapkan sesuai rencana. Jadi tidak harus dilakukan penunadaan.

Melaui sistem ini juga bisa dikembangkan  ke lintas moda, sehingga harapan menurunkan biaya logistk dan mendorong peningkatan daya beli serta peningkatan daya saing bisa terwujud. (Has)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here