KNKT Usul Berita Cuaca Jadi Syarat Penerbitan SPB

0
30

Banjarmasin (up2date.co.id) – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) usul agar berita tentang kondisi cuaca menjadi salah satu syarat yang harus dilampirkan oleh Nakhoda ketika mengajukan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) dari syahbandar.

Demikian disampaikan Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono saat membuka Safety Review Forum tentang keselamatan pelayaran pada kapal Roll on Roll off (Ro-Ro) di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Kamis (1/8/2019).

“Kondisi cuaca menjadi salah satu faktor penyebab sering terjadinya kecelakaan pelayaran. Sementara nakhoda dan syahbanfat juga sering abai atau kurang memperhatikan kondisi cuaca,” kata Tjahjono.

Menurut Tjahjono, berdasarkan hasil berbagai investigasi terhadap kecelakaan kapal, ada beberapa penyebab yang memberikan sumbangsih atas terjadinya kecelakaan kapal, khususnya kapal Ro-Ro. Salah satu diantaranya adalah sering diabaikannya faktor cuaca ketika kapal hendak berlayar.

“Nakhoda sering beralasan mereka sudah biasa melewati rute pelayaran, termasuk mengetahui kondisi cuaca pada rute pelayarannya tersebut setiap hari. Sehingga mereka merasa tidak perlu mengetahui kondisi cuaca terkini. Padahal cuaca di Indonesia sering berubah cepat,” tegas Tjahjono.

Kekurang pedulian terhadap cuaca juga terjadi pada syahbandar dan juga operator pelabuhan. Buktinya, kata Tjahono, dari sekitar 3.200 pelabuhan hanya ada 10 pelabuhan yang memiliki stasiun Badan Meteorologi, Geofisika, dan Klimatologi (BMKG). Dari 10 pelabuhan itu pun baru 1 pelabuhan yang memiliki MoU dengan BMKG untuk mendapatkan informasi cuaca maritim.

“Nyaris semua informasi cuaca bukan informasi cuaca khusus untum maritim, tapi informasi cuaca umum,” katanya.

Penyebab kecelakaan kapal Ro-Ro lainnya adalah akibat tidak adanya manajemen risiko di atas kapal atau Bridge Risk Managament (BRM). Awak Buah Kapal masih banyak yang tidak mengetahui bagaimana menangani kondisi emergency di atas kapal.

“Penyebab lainnya akibat cara pengangkutan truk barang yang tidak benar, termasuk pemuatan truk-truk Over Dimensi dan Over Loading atau ODOL,” ujar Tjahjono.

Ia berharap dari kegiatan Safety Review Forum ini menghasilkan masukan dan gagasan untuk dijadikan solusi bersama agar kejadian serupa tidak lagi terulang.

Pada kesempatan tersebut turut hadir Kepala Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Banjarmasin Capt. Mugen S Sartoto, Kepala KSOP Kumai Capt. Wahyu Prihanto, Kabag TU KNKT Sri Rejeki, dan stakeholder terkait seperti Gapasdap, Aptrindo, Dishub, operator penyeberangan dan lainnya.(fyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here