Rupiah Melemah pada Dolar AS Pagi Ini

0
68

JAKARTA (up2date.co.id) – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka stagnan di perdagangan pasar spot hari ini. Namun sesaat kemudian, rupiah langsung terjun ke zona merah.

Pada Jumat (8/2/2019), US$ setara dengan Rp 13.970 kala pembukaan pasar spot. Sama dengan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Namun itu tidak lama karena rupiah langsung terpeleset. Pada pukul 08:10 WIB, US$ 1 sudah berada di Rp 13.980 di mana rupiah melemah 0,07%.

Kemarin, rupiah juga melemah di hadapan greenback. Bahkan pelemahan rupiah menjadi yang paling dalam di antara mata uang Asia lainnya.

Pagi ini, dolar AS masih perkasa di hadapan sejumlah mata uang Asia. Selain rupiah, mata uang Benua Kuning yang juga melemah adalah won Korea Selatan, peso Filipina, dolar Singapura, dan baht Thailand. Yuan China juga melemah, tapi tidak bisa dibandingkan karena pasar keuangan Negeri Tirai Bambu masih tutup memperingati Tahun Baru Imlek.

Tidak hanya di Asia, dolar AS memang sedang menguat secara global. Pada pukul 08:15 WIB, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) menguat 0,06%. Dalam sepekan terakhir, indeks ini melesat 1,06%.

Dolar AS mendapat kekuatan karena kekhawatiran investor terhadap risiko perlambatan ekonomi, khususnya di Eropa. Biro Statistik Federal Jerman melaporkan produksi industri pada Desember 2018 turun 0,4% dibandingkan bulan sebelumnya. Jauh dibandingkan konsensus pasar yang dihimpun Reuters, yang memperkirakan kenaikan 0,7%.

Oleh karena itu, para ekonomi meramal ekonomi Negeri Panser akan mengalami kontraksi alias tumbuh negatif pada kuartal IV-2018. Jika ini terjadi, maka Jerman resmi mengalami resesi karena pada kuartal sebelumnya sudah mengalami kontraksi 0,2%. Resesi terjadi jika sebuah negara mengalami kontraksi dua kuartal beruntun pada tahun yang sama.

Tidak cuma di Jerman, aura perlambatan ekonomi menyebar ke seluruh Eropa. Komisi Uni Eropa memperkirakan pertumbuhan ekonomi Zona Euro pada 2019 sebesar 1,3%. Melambat dibandingkan 2018 yang diperkirakan 1,9%.

Sementara Bank Sentral Inggris (BoE) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Negeri Ratu Elizabeth untuk 2019 dari dari 1,7% menjadi 1,2%. Risiko terbesar bagi perekonomian Inggris saat ini adalah Brexit.

Sepetinya kemungkinan untuk terjadi No Deal Brexit (Inggris tidak mendapat kompensasi apapun dari perceraian dengan Uni Eropa) semakin besar dan tidak bisa dikesampingkan. Setelah kesepakatan Brexit yang diusung Perdana Menteri Theresa May ditolak parlemen bulan lalu, semuanya menjadi semakin tidak jelas.

“Ketidakpastian Brexit yang semakin nyata akhir-akhir ini menyebabkan aktivitas bisnis meredup dalam waktu dekat,” sebut pernyataan tertulis BoE.

Suasana muram di Benua Biru membuat investor lagi-lagi melirik dolar AS. Apalagi ada data ekonomi yang positif dari Negeri Paman Sam.

Klaim tunjangan pengangguran di AS pada pekan yang berakhir 2 Februari turun 19.000 menjadi 234.000. Artinya, dunia usaha di AS masih kuat dan terus menciptakan lapangan kerja.

Perkembangan pasar tenaga kerja AS yang positif semakin membuka ruang bagi The Federal Reserves/The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan, walau mungkin tidak dalam waktu dekat. Jerome ‘Jay’ Powell dan kolega masih belum mengubah dot plot Federal Funds Rate, yang ditargetkan berada di median 2,8% pada akhir 2019. Saat ini median suku bunga acuan adalah 2,375%, sehingga butuh setidaknya dua kali kenaikan lagi untuk mencapai target akhir tahun.

Potensi kenaikan suku bunga acuan membuat dolar AS masih seksi untuk dikoleksi. Akibatnya, mata uang Negeri Adidaya kembali perkasa dan memakan korban di Asia. Salah satunya rupiah. (Aisha/sumber: cnbcindonesia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here